Resensi Film "Laskar Pemimpi"

Sutradara: Monty Tiwa
Pemain: Tika Panggabean, Hermann Josis Mokalu, Udjo Karim, Gumilar Nurochman, Wahyu Rudi Astadi, Muhammad Fachroni, Dwi Sasono, Shanty, Gading Marten, T Rifnu Wikana, Masayu Anastasia, Marcell Siahaan, Candil
Tahun Rilis: 2010

Tambahkan humor-humor konyol, lagu-lagu komedik, plus Project Pop, dan minus Lukman Sardi pada Merah Putih, jadilah Laskar Pemimpi. Pada dasarnya, Laskar Pemimpi memang terlihat seperti versi musikal komedi (atau versi yang tidak seserius) dari Merah Putih.

Susah untuk menghapal semua nama tokoh dalam Laskar Pemimpi, beberapa yang saya ingat paling Sri Mulyani yang diperankan oleh Tika Panggabean, Wiwid diperankan oleh Shanty, Once diperankan oleh Muchammad Fachroni (wajar saja karena namanya yang paling banyak disebut sepanjangan film), dan Soeharto muda, tentunya, yang diperankan oleh Marcell Siahaan. Saya bahkan sama sekali tidak ingat nama kapten yang diperankan oleh Gading Matin atau nama tangan kanannya yang diperankan oleh Rifnu Wikana. Saya bahkan tidak ingat nama tentara yang diperankan oleh Dwi Sasono atau nama kekasihnya yang diperankan oleh Masayu Anastasia. Saking banyaknya tokoh yang saling berlomba-lomba tampil, jelas sulit bagi orang yang susah mengingat nama orang seperti saya ini untuk mengingat nama setiap tokoh dalam Laskar Pemimpi.

Cerita yang disuguhkan juga setipe-tipe dengan Merah Putih, tentang perjuangan sekelompok prajurit republik dari berbagai latar belakang melawan para penjajah (aka Londo). Sekelompok prajurit dari berbagai latar belakang di Laskar Pemimpi tidak lain diperankan oleh Project Pop (+ Dwi Sasono). Misi yang diemban mereka tidak serumit dalam Merah Putih, para prajurit ini bermisi membebaskan para tawanan pribumi di markas Londo. Bukan karena misi membebaskan tawanan itu gampang lho, tapi memang nuansa komedik di film ini yang membuat misi tersebut terlihat gampang dan sekedar konyol-konyolan. Untuk lebih jelasnya, bisa dibaca di sini.

Bicara tentang tokoh, layaknya komedi konyol-konyolan bikinan Indonesia pada umumnya, penokohan adalah poin terlemah. Semua tokoh yang ada terkesan dua dimensi, hanya terbangun kulitnya saja demi kepentingan ngakak penonton. Ada tokoh yang mempunyai subplot; Dwi Sasono yang jatuh cinta dengan Masayu Anastasia atau Udjo Karim yang jatuh cinta dengan Shanty atau seorang pasukan Londo (pengkhianat Indonesia) yang menemukan jati diri patriotiknya di tengah-tengah kekonyolan pasukan republik Project Pop. Ada juga tokoh yang sengaja dibuat konyol (dan cenderung dankal) demi kepentingan komedik, seperti tokohnya Tika Panggabean yang tidur ngorok ketika desanya didentumi oleh Londo atau tokohnya Hermann Josis Mokalu yang hormat dengan pantat sapi karena minus matanya tidak ketulungan lagi. Ironisnya, ada juga anggota Project Pop yang cuma sekedar numpang lewat karena tidak kebagian porsi yang cukup memadai.

Untuk menarik urat geli para penonton, Monty Tiwa (Keramat) lagi-lagi menekan unsur konyol dalam Laskar Pemimpi hingga menembus batas jenuh (alias over). Action-action pun dibuat sekonyol mungkin. Semakin konyol, semakin lucu, mungkin itu yang ada di benak Monty Tiwa (dan sutradara komedi konyol Indonesia lainnya). Hasilnya malah banyak adegan yang terasa sangat terkesan dipaksa. Sebagai bonus, Monty Tiwa menyuguhkan unsur musikal yang sialnya malah terasa nanggung keberadaannya. Apakah ini komedi musikal? Tetapi unsur musikalnya terlalu minim untuk disebut komedi musikal? Atau cuma sekedar bonus-bonusan karena film ini dibintangi oleh Project Pop? Apakah film komedi Indonesia harus selalu terlihat konyol? Apakah penonton film komedi Indonesia cuma bisa menikmati komedi konyol yang dangkal? Tanya kenapa?

Sumber:
http://resensi-resensi-film.blogspot.com/2010/09/laskar-pemimpi.html

0 comments:

Post a Comment